Kontekstualisasi Rambu Solo'


Baca Juga Artikel terkait Disini


Related image


                      MAKALAH KONTEKSTUALISASI RAMBU SOLO’ TANA TORAJA

D
I
S
U
S
U
N
OLEH:
Frerianus Erwin
NIRM:
1501213
Dosen Pengampuh:
Pdt. Hendrik S. Paattang, M.Th.

SEKOLAH TINGGI TEOLOGI KIBAID
MAKALE
2017/2018


Bab I
Pendahuluan
Latar Belakang Masalah
Kebudayaan merupakan bagian yang terintegrasi dengan kehidupan masyarakat. Tidak ada kehidupan masyarakat yang tidak memiliki kebudayaan sebagai bagian dari ciri khas mereka. Dari hal itulah mereka dikenal sebagai suatu kelompok  masyarakat yang berbeda dengan kelompok, suku, ataupun bangsa yang lain.
Hal itu sejalan dengan apa yang dikemukakan oleh Darmansyah bahwa “ Masyarakat dan Kebudayaan ibarat dua sisi mata uang, satu sama lain tidak dapat dipisahkan.”[1]
Klukhohn mendefenisikan kebudayaan, sebagaimana dikutip oleh David J.Hesselgrave dalam bukunya, Communicating Christ Cross- Cullturally: Mengkomunikasikan Kristus Secara Lintas Budaya: Pendahuluan ke Komunikasi Missionari, bahwa “kebudayaan adalah cara berpikir, merasa, meyakini.”[2]
Oleh karena itu, secara subjektif, setiap individu tentunya akan berbeda satu dengan yang lainnya. Namun, jika individu-individu yang berbeda itu terikat dalam sebuah pola budaya yang sama, mereka cenderung menjadi sama. Bahkan, budaya itulah yang akan membedakan mereka dengan kelompok masyarakat lain yang berkumpul di temapt lain.
Sebagai kelompok ataupun suku yang berbeda dengan yang lainnya, suku Toraja juga memiliki budaya yang menjadikannya unik di tengah-tengah kemajemukan suku-suku bangsa di Indonesia. Salah satu budaya yang sangat terkenal dari Tana Toraja, bahkan dikenal sampai mancanegara, adalah Rambu Solo’  atau upacara pemakaman.
Upacara itu biasanya dilaksanakan dengan memerhatikan strata social orang yang meninggal.
Dalam kebudayaan masyarakat Toraja dikenal empat macam tingkat atau strata social: (1) Tana’ Bulaan atau golongan bangsawan, (2) Tana’ Bassi atau golongan bangsawan menengah, (3) Tana’ Karurung atau rakyat biasa/ rakyat merdeka, dan (4) Tana’ Kua-kua atau golongan hamba.[3]
 Mereka yang termasuk dalam kelompok orang berbeda atau kalangan bangsawan biasanya melangsungkan upacara itu dengan cara yang mewah. Hal itu dimaksudkan untuk menunjukkan bahwa mereka memang berasal dari kelompok masyarakat kalangan atas. Sebaliknya, kelompok masyarakat yang tidak punya atau berasal dari kelompok hamba/ rakyat biasa tidak dapat melakuakn uapacara itu sebagaimana yang dilakukan oleh kelompok bangsawan.  Upacara Rambu Solo’ merupakan sebuah upacara yang sarat dengan nilai-nilai adat-istiadat (aluk) yang mengikat masyarakat Toraja. Bahkan, kepercayaan bahwa “Aluk diciptakan di langit. Oleh karena itu, aluk itu ilahi pula dan seluruh makhluk tunduk kepada aluk.”[4]
Namun, kebudayaan suatu daerah kini sudah mulai hilang secara perlahan bukan hanya karena kemajuan di bidang iptek tetapi juga dari sudut pandang agama-agama lain yang bermunculan dengan doktrin-doktrin yang berlawanan dengan pengajaran budaya-budaya daerah itu. Sebagai salah satu agama yang dimaksud adalah agama Kristen.

Bab II
 Elemen dan Nilai Budaya
Pada bab sebelumnya telah dibahas mengenai pengertian budaya dan Rambu Solo’. Dalam bab ini penulis akan membahas tentang Elemen serta Nilai Budaya yang terkandung di dalam Upacara Rambu Solo’.
Elemen
Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia “Elemen adalah bagian atau unsur yang penting/ yang dibutuhkan.[5]  Oleh karena itu penulis mengambil beberapa elemen yang penulis dapatkan dari hasil penelitian lapangan dan wawancara, antara lain:
Anginan
Anginan berbeda dengan Lakkean tetapi satu fungsi yaitu tempat meletakkan mayat setelah dipindahkan dari rumah duka. Anginan dipasang dengan letak tidak terpisah dari rumah duka, sedangkan Lakkean dibuat terpisah dari rumah. Jumlah kerbau yang dipotong apabila Rambu Solo’ dengan menggunakan anginan adalah 12 ekor kerbau, sedangkan apabila menggunakan Lakkean 24 kerbau.[6]

Kaseda/ Kain Merah
Kaseda/ kain merah bukan dipasang sebagai dekorasi umum atau hanya sebagai penghias semata, tetapi bagi masyarakat Toraja khususnya pada acara Rambu Solo’  mempunyai makna yang sangat penting.[7]
Kaseda/ kain merah menggambarakan bahwa itu adalah lambang kekayaan. Umumnya Kaseda baru boleh digunakan pada acara Rambu Solo’ tingkat Ma’pellima (Upacara lima malam dengan menyembelih kerbau sekurang-kurangnya lima ekor) karena tingat upacara ini hanya boleh dilaksanakan oleh golongan menengah ke atas.
Gayang
Gayang ialah keris yang hulu dan sarungnya bersalut emas. Gayang seirng kita lihat dalam acara Rambu Solo’ dipajang di depan Lakkean atau Anginan dan juga ditempat menerima tamu atau tempat masuknya rombongan. Gayang tidak sembarang dipasang baik di acara Rambu Solo’ maupun Rambu Tuka’. Apabila acara Rambu Tuka’ (Rampanan Kapa’) gayang dipasang menghadap Timur  dengan jumlah harus ganjil. Kemudian, pemasangan gayang pada acara Rambu Solo’ dipasang menghadap kearah barat dan harus dengan jumlah yang genap.[8]  Gayang adalah lambang anak laki-laki gagah yang mulia.
Kandaure
Kandaure sering juga kita temui dalam acara Rambu Solo’ maupun Rambu Tuka’. Kandaure merupakan Lambang dari martabat/ harga diri dari seseorang.kandaure adalah perhiasan yang dibuat dari manic-manik warna-warni yang dianyam berukir seperti corong dan berumabi-umbai menjadi perhiasan wanita. Juga merupakan perhiasan yang sangat berharga bagi masyarakat Toraja.
Kandaure yaitu sejenis perhiasan yang terbuat dari macam-macam manik.Manik-manik tersebut diuntai menurut daya cipta tertentu sehingga menyerupai alat yang menyerupai corong disertai gambar dan ukiran-ukiran.Pinggirnya berumbai panjang dengan aneka ragam manik-manik yang teruntai rapi pada tali.Kandaure biasa dipakai wanita pada pesta keramaian,atau perhiasa pada pesta orang mati.Benda ini dipercayai mendatangkan berkat bagi pemiliknya dan juga bisa mendatangkan malapetaka
Gayang dan Kandaure dipergunakan sebagai hiasan yang bermakna pada upacara aluk Rambu Solo’ tingkat yang lebih tinggi sebagai lambang kemuliaan dan lambang dari dunia yang didiami oleh dua jenis kelamin laki-laki dan perempuan. Jadi kalau ada hiasan gayang harus ada pula kandaure sebagai imbangannya dan sebaliknya.
Lattang Karampoan
Berfungsi sebagai tempat untuk menerima tamu-tamu yang datang sebelum para tamu itu diantar ke barung atau pondok.
Nilai Budaya Rambu Solo’
Arti nilai menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia adalah harga, angka kepandaian, dan lain-lain. [9]
Nilai menurut para ahli sebagai berikut: [10]
·         Robert  MZ Lawang menyatakan bahwa nilai adalah gambaran mengenai apa yang diinginkan, yang pantas, berharga, dan dapat memengaruhi perilaku social dari orang-orang yang bernilai tersebut
·         Woods menyatakan bahwa nilai merupakan petunjuk umum yang telah berlangsung lama serta mengarahkan tingkah laku dan kepuasan dalam kehidupan sehari-hari.
·         Hendropuspito menyatakan bahwa nilai adalah segala sesuatu yang dihargai masyarakat karena mempunyai daya guna fungsional bagi perkembangan kehidupan manusia.
·         Sutisna menyatakan bahwa nilai merupakan sesuatu yang baik, yang diinginkan, dicita-citakan dan dianggap penting oleh warga masyarakat.
Dengan demikian, maka nilai-nilai berarti segala sesuatu yang berharga dan dianggap penting yang mempengaruhi perilaku social dalam kehidupan bermasyarakat. Dalam Upacara Rambu Solo’ yang dilaksanakan memiliki nilai-nilai tersendiri yang terkandung dan yang menjadi lamdasan orang-orang untuk tetap melaksanakan upacara Rambu Solo’.  Nilai-nilai tersebut antara lain:
Nilai Pemujaan
Penganut Aluk Todolo yang sekarang dengan nama Alukta yang merupakan salah satu aliran dari agama Hindu, menilai semua upacara pada kegiatan Rambu Solo’ dan Rambu Tuka’ adalah ritual yang merupakan pemujaan atau penyembahan kepada yang maha kuasa Puang Matua (Allah) dan dewata (setan).[11] Pemujaan dibuktikan dengan seluruh pengorbanan, utamanya pemotongan babi dan kerbau yang dipotong selama berlangsungnya kegaiatan Rambu Solo’. Pelaksanaan ritual Rambu Solo’ juga sebagai bagian dari penghormatan kepada leluhur yang telah beralih menjadi ilah. Pengorbanan tersebut di atas, juga berfungsi sebgaia eskatologis di dalam kehidupan orang Toraja.
Nilai kekeluargaan
Dalam Aluk Rambu Solo’ hugungan kekeluargaan dipertahankan, diperbaharui, dan dipulihkan sehingga hubungan kekeluargaan tidak terputus.  Kekeluargaan yang dimaksud di sini adalah kekeluargaan dalam arti yangluas berdasrkan keturunan, keluarga semenda, regional dan rekan (siala siulu’), serta ikatan keluarga dengan para leluhur. Justru ikatan kekeluargaan dengan para leluhur inilah Aluk Rambu Solo’ harus dilaksanakan di rumah tongkonan yang telah dibangun dan dilembagakan oleh para leluhur.[12]
Dengan demikian, maka nilai kekeluargaan dari sebuah rumah tongkonan yang melakukan ritual Rambu Solo’ mendorong setiap anggota keluarga untuk mengambil bagian dalam upacara Rambu Solo’ melalui pengorbanan babi dan kerbau, karena dengan hal demikianlah yang menyatakan dan mempererat rasa kekeluargaan dari suatu tongkonan.
Nilai Persekutuan
Nilai persekutuan (ambakan datu) yang berarti kegotong royongan, adalah suatu pranata social, suatu kesatuan regional dalam hubungan kepemimpinan struktur tongkonan. Ini adalah kesatuan, berpikir, kesatuan bertindak, berbakti, kesatuan emosional dan kesatuan kerja. Terselenggaranya aluk Rambu Solo’ dengan baik di suatu daerah ambakan datu yang bersangkutan yang akan disebut-sebut orang dan bukan menyebut keluarga yang bersangkutan.[13]
Dengan demikian, maka niloai persekutuan dalam rangka tiual Rambu Solo’ adalh menghadiri langsung upacara Rambu Solo’ dan tidka boleh diwakilkan kepada siapapun juga, karena hal ini meurpakan bukti bahwa yang bersangkutan tetap teguh memelihara persekutuan  dalam daerah itu.
Nilai Sosial
Leluhur Toraja mengajarkan bahwa harta kekayaan itu berfungsi social. Manusa sebagai mahkluk social pada dasranya adalah satu keluarga sehingga kekayaan itu adalah milik bersama melalui kerja gotong royong. Dengan demikian bergotong royong bukan berarti bekerja sia-sia untuk orang lain, Karena hasilnya dinikmati bersama. Dalam masyarakat Toraja sering terlihat di mana orang kaya senantiasa memberi makan kepada orang lain, baik melalui upah kerja ataupun dengan memberi kesempatan kerja, maupun melalui pesta-pesta.
Dengan demikian, maka nilai social para ritual Rambu Solo’ adalah bahwa membagi-bagi harta kekayaan seperti makanan, minuman, daging babi, daging kerbau dan lainnya secara gratis, tentunya berfungsi sebagai bagian dari nilai social.
Nilai Gotong Royong
Manusia sebagai mahluk social tidak hidup sendiri di dunia ini, tetapi dikelilingi oleh komunitasnya, masyarakatnya, dan alam semesta sekitarnya. Di dalam system makromos tersebut ia merasakan dirinya hanya sebagai satu unsure kecil saja, yang ikut terbawa oleh proses peredaran alam semesta yang maha besar itu. Dengan demikian, dalam segala aspek kehidupan manusia pada hakikatnya tergantung pada sesamanya, terdorong oleh jiwa sama rata sama rasa, sama tinggi sama rendah. Gotong royong sebagai system pengerahan tenaga pada umumnya dilakukan pedesaan, baik dalam hal bercocok tanam maupun kegiatan lainnya seperti membangun rumah, dan lain-lainnya.
Dengan demikian, maka nilai gotong royong dalam ritual Rambu Solo’ adalah kerja bakti tanpa gaji dalam kebersamaan membangun pondok untuk mempersiapkan tempat untuk upacar Rambu Solo’

Bab III
 Upaya Kontekstualisasi Injil Yang Relevan
Pengertian Injil
Injil ialah berita kesuksesan tentang segala perbuatan Allah di dalam Yesus Kristus. Perbuatan Allah yang besar itu adalah wujud kasih-Nya ke dalam dunia ini untuk menyelamatkan umat manusia. injil itu membaharui manusia dan masyarakatnya, membaharui Aluk (Agama), adat dan kebudayaan serta seluruh lingkungannya (dunia). [14]
Jadi Injil itu mebaharui semuanya untuk memuji Tuhan dan didalamnya manusia beroleh sejahtera. Injil itu dinamis senantiasa mengerjakan pembaharuan hidup.
Tekanan utama yang akan gumuli dalam tulisan ini ialah “ bagaimana seharusnya setiap orang Krsiten berteologi dalam konteks/ lingkungan hidupnya secara utuh.” Yang dipentingkan disini ialah bagaimana seharusnya Injil (yang utuh itu) ditabrukan sehingga membawa keseimbangan yang tampak dari refleksi teologi si penermia Injil.
Eka Darmaputra dalam buku karangan Yakob Tomatala (Teologi Kontekstulisasi) menegaskan bahwa,:
 “Teologi Kontekstualisasi adalah “teologi” itu sendiri. Artinya teologi hanya dapat disebut sebagai teologi apabila ia benar-benar kontekstual. Karena pada hakekatnya, teologi tidak lain dan tidak bukan adalah upaya untuk mempertemukan secara dialektik, kreatif secara esensial antara “teks” dengan “konteks” dengan kehidupan yang kontekstual. Atau secara sederhana dapat dikatakan bahwa  teologi adalah upaya untuk merumuskan penghayatan iman kristiani pada konteks, ruang, dan waktu yang tertentu.[15]

Hendrik Sony dalam diktat perkuliahan penginjilan mengatakan bahwa, “Penginjilan ialah usaha yang dilakukan oleh manusia untuk memperkenalkan syalom Allah yang sudah ada sejak kekal (kairos) yang dimulai dari Allah atau memperjumpakan Kristus kepada manusia yang belum mengenal-Nya yang dilakukan dengan berbagai cara agar manusia tidak binasa, mereka dikuatkan dan menjadi dewasa di dalam bimbingan Roh Kudus.”[16]

Upaya Kontekstual
Di dalam sejarah pekabaran Injil sudah kita jumpai bermacam cara pendekatan terhadap berbagai kebudayaan di mana Injil itu diberitakan. Yang harus dipahami terlebih dahulu bahwa pada hakekatnya segala sesuatu adalah milik Kristus. Kebudayaan-kebudayaan atau unsur-unsur kebudayaan makna-kristen pada hakekatnya juga miliki Kristus. Kristus dapat memakai setiap unsure kebudayan untuk maksud-Nya. Dalam pemakaian itu tentunya setiap tindakan harus bijaksana. Jelaslah bagi kita bahwa pendapat ini adalah Kristosentris. Kristus menjadi pusat segala-galanya.
Kristus adalah jalan kembali kepada Allah, dalam Alkitab Yesus menyatakan hal itu melalui perkataan-Nya “Akulah jalan, kebenaran dan hidup.”[17] Melalui proklamir itu Dia meyakinkan setiap orang yang percaya kepada-Nya bahwa hanya Dia satu-satunya jalan tidak ada yang lain yang bisa datdng kepada Bapa kalau tidak melalui Dia, karena Dialah Kristus Yesus yang menjadi inti dari pemberitaan orang-orang percaya sampai ke ujung dunia ini.
Rambu Solo’ dan Rambu Tuka’ tidak dilarang. Orang Toraja Kristen hidup didalmnya, tetapi ia adalah manusia yang sudah dibaharui , ia hidup sebagai ciptaan baru dengan nilai-nilai baru. Sebab itu Rambu Solo’ dan Rambu tuka’ dilaksanakannya sebagai kebudayaan manusia baru. Yang jadi masalah adalah jika Rambu Solo’ atau Rambu tuka’ itu  dilaksanakan dalam kebudayaan manusia lama.
Frank Gaynor sebagaimana dikutip dalam buku Teologi Kontemporer karangan Harvie M. Conn mengatakan, “ esensi agama lama/ primitive sebagai suaut filsafat, doktrin, ajaran atau kepercayaan yang lebih berpusat pada dunia roh daripada alam semesta yang bersifat materi yang memiliki unsur kepercayaan pada wahyu khusus di luar Alkitab. [18]
Kriteria pembaharuan kebudayaan tidak terletak pada bentuk dan caranya, tetapi pada nilai-nilai yang diungkapkannya. Theologia ethis, yang menyangkut iman dan kehidupan praktis sehari-hari dalam hubungan Allah dan manusia. Bolehkah, pesta orang mati itu bagi orang Toraja Krsiten? Tidak ada larangan, tetpai apakah yang dikehendaki Allah dalam pelaksanan Rambu Solo’? itulah yang harus menjadi isi Rambu solo’.
Di dalam konteks inilah manusia harus hidup dalam ketaatan kepada Firman Allah. Sikap orang-orang ialah memelihara dan mengembangkan nilai-nilai yang sesuai dengan kehendak Allah serta mencegah dan menolak setiap nilai-nilai yang bertentangan dnegan undang-undang  dasar Kerajaan Allah, yaitu mengasihi Allah dan sesama manusia. itulah pola dasar kebudayaan manusia.

BAB IV
KESIMPULAN
Salah satu budaya yang sangat terkenal dari Tana Toraja, bahkan dikenal sampai mancanegara, adalah Rambu Solo’  atau upacara pemakaman.
Elemen-elemen budaya yang diteliti yaitu:
      Anginan
      Kasedah/ Kain Merah
      Kandaure
      Gayang
      Lattang Karampoan
Nilai budaya Rambu Solo’:
      Nilai Pemujaan
      Nilai Kekeluargaan
      Nilai Persekutuan
      Nilai Sosial
      Nilai Gotong-Royong
Upaya Kontekstualisasi Rambu Solo’ dan Rambu Tuka’ tidak dilarang. Orang Toraja Kristen hidup didalmnya, tetapi ia adalah manusia yang sudah dibaharui , ia hidup sebagai ciptaan baru dengan nilai-nilai baru. Sebab itu Rambu Solo’ dan Rambu tuka’ dilaksanakannya sebagai kebudayaan manusia baru. Yang jadi masalah adalah jika Rambu Solo’ atau Rambu tuka’ itu  dilaksanakan dalam kebudayaan manusia lama.

@NirinSarosija
#NirinSarosija
@FrerianusErwin
#FrerianusErwin








[1] Darmansyah M., Ilmu Sosial Dasar (Surabaya: Usaha Nasional, 1986), 59
[2] David J. Hesselgrave, Communicating Christ Cross-Culturally:Mengkomunikasikan Kristus Sedara Lintas Budaya: Pendahuluan ke Komunikasi Misionari (Malang: SAAT, 2004), 96
[3] Y.A. Sarira, Rambu Solo’ dan Persepsi Orang Kristen tentang Rambu Solo’ (Tana Toraja: Pusbang Gereja Toraja, 1996), 105
[4] Ibid, 63.
[5]­­______, Kamus Besar Bahasa Indonesia, s.v. “elemen”
[6] Y Pabebang, wawancara oleh penulis, Sangngalla’, Tana Toraja, 17 Oktober 2017
[7] Ibid.
[8] Ibid,
[9] ­­­______Kamus Besar Bahasa Indonesia, s.v. “Nilai”
[11]Agustinus, Pengaruh nilai-nilai tradisi leluhur Rambu Solo’ terhadap Konsep kematian yang dimiliki umat Kristen Gereja Kibaid di Toraja (Disertasi STT baptis Indonesia, Semarang 2011) 58
[12] Ibid., 59
[13] Aluk, adat, dan kebudayaan Toraja dalam perjumpaannya dengan Injil, Pusbang Badan Pekerja Sinode Gereja Toraja 1992
[14] Stephen Tong, Apa Yang Kami Percaya?, (Surabaya: Momentum, 2013),  26
[15] Yakob Tomatala, Teologi Kontekstualisasi, (Malang: Gandum Mas, 1993), 2-3
[16] Hendrik Sony Paattang, Materi Perkuliahan Penginjilan, s.v. “Penginjilan”
[17] Stephen Tong, Iman & Agama, (Surabaya: Momentum, 2011), 87.
[18] Harvie M. Conn, Teologia Kontemporer, (Malang: Literatur SAAT, 2012), 148

Model Penginjilan Evangelism Explotion (EE) Bahasa Toraja

Evangelism Explotion (EE) adalah sebuah lembaga penginjilan dan misi yang dibentuk untuk memperlengkapi setiap orang percaya untuk membawa kabar baik Yesus Kristus itu kepada mereka yang butuh kasih Kristus itu. 
Dalam hal ini penginjilan harus menjangkau semua budaya, adat, dan tidak memandang golonga manapun. Nah, salah satunya adalah budaya Toraja. Penulis sangat tertarik untuk bisa menjangkau orang-orang yang masih rindu kasih Krsitus di Toraja, namun diperlukan juga kemampuan paling tidak linguistik atau bahasa untuk bisa memberikan penjelasan kepada orang Toraja dengan baik. Olehnya itu, penulis mengupload EE dalam versi bahasa Toraja.
Harapan penulis bisa membantu semua orang percaya yang berusaha membagikan kasih Kristus itu kepada orang banyak.

Selamat membaca, menyimak, dan mepraktekkan.
Tuhan Berkati :)

                          Foto: Penginjilan Oleh STT Kibaid Makale Ke Baruppu' Toraja Utara


Umpa’peambaran Kareba Melo

Den da’dua pekutana lakupekutanaan lako kalemi…… (nama orang/sapaan).
1.      Ia ke natambaikomi Puang Matua allo iate mikanassaisiamoraka lan penammikumua latamakomi suruga?
2.      Na pa ia ke dio to ba’ba suruga nakumi Puang Matua, “Maapiri Kulaupatamako surugangKu? Aparalamipebalian ?
Ia tu katuan saelakona napa’kamasean Puang matua lako to lino susimisa’ pamengan tangdialli tangia kita assele’ pengkarangannta, apa mintu tau tae na sielle ba’tu sipato’ untarimai tu pamengan iato belanna dosa ba’tu kasalan.  Mintu tau nasambo langi madosa nasangmo dio olona Puang.
Apara tu disanga dosa?
Ia ke kamu……(nama orang/sapaan)
Apara tu disanga dosa ?
Ia tu biasa nani tau madosa ullendui buangan kadanta, ullendui duka pa’tangaranta la’bi pole’paraka ke umpata’paiki tau lima.  Ba’tu den apamelo ditandai apa tae’ nadipogau’.  Ia ke lan sangallona ta pogau’ dosa ba’tu kasalan pentallunbangmo malambi’, tanggallo, namakaren susiki’ to kande pedampi dadi anna lan sangbulan battuananna kaserapulona salata.  Anna lan sangtaun sangsa’bu tu salata.  Iake tuoki’ pitungpula taunna berarti pitung pulo sa’bu salata.  Bisarikika tama suruga ke umpoga’ki dosa padato? Ia ke susito tae’ nabisa tu tolino umpasalama’ kalena.  Pembudaki’ matangnga’ kumua antala mentama suruga laumpogau’ki buda penggauran melo.  Apa pira tu penggauran melo latapogau’ namane untarimai Puang Matua belanna ia tu Puang Matua nadaka’ tu kasundunan katuan.  Pirara tu disanga sundun ba’tu ganna’?
Iake dibengki angka karua dio passikolan ba’tu angka kasera tae’pa naganna, sangpulopi na ganna.  Susi ke den misa keluargga katoratuan nalendu’mo bongi natae’tu apa nabenni apa den sia sangpulo tallo apa te’ naganna ke dipare’dei ba’tu dinasu kalebui.  Kumua anna ganna tu tau, ia tu tallo iato digoreng.  Ia tonna diparokko pamuntu den misa tu bosi na iate bosinna ullelei tu melonapa natae’mo nabisa dikande saba’ bubosi.  Ten dukamoto ia tu penggauran melota naruttakki misa penggauran kadake.  Dadi ia tu penggauran melota tae’ naia la umpasalama’ki.  Dadi iake susito maikomi tatiroi tu lalan nani Puang Matua umpasalama’ki.
Ia ke kamu umbara susi tu sipa’na Puang Matua?
Den tau umpahangi kumua ia tu Puang Matua liu mamase mui apa dipogau’ nangla napagarri’ki’ ia.  Susi misa’ nenek ungkamassengngi ampona, mui salabangna paogau’tu ampona tae’ nata’tanlenni.  Apa tae’ nakilalai kumua ia tu Puang Matua malambu’ Ia ba’tu adil.  Den duka tau umpahangngi kumua ia tu Puang matua malambu ba’tu maruru’ namintu kasalanta inangla dipapakkanni.  Dipa’pasusi polisi diolu lalan ianna tae’ na ma’helem tu tau ditilang.  Tapi sitonganna ia tu Puang matua mamase sia maruru’ natae’nala unnukungki’.  Apa ia tu Puang Matua marruru’ napapakkanni tu mintu dosa ba’tu kasalan.  Dipa’pasusi misa’ ambe male boko lako bank.  Ia to doi naboko limangpulo juta.  Na lan bank iato den tu foto umfotoi tu tau iato sisola ba’tu pira-pira tau lan bank untiroi.  Ia tonna dibamo lako pengadilan iate tau iate ditarungku limang taun.  Apa iatonna ladipamattantu tu hukumannna, nakumi te tau ia te perangipa’dolo, salamo’ sia menassanmo’ mangka boko kupasulemo te doi’ sia te’ sia tau kusanggang.  Ma’dandi na totemo tae’mo ku laboko sia rampananna’.  Ia anna  pangra’ta kara-kara ia to maruru’ bisaraka narampannan tu tau ia to? Ia tu hakim ke maruru’ tonganni narampannani tu tau ia to belanna menassanmo sia te’mo naboko moi misa’ bank lan te lino tae’ nala manaman.  Susi bangsia kita to madosa pasti dihukum ba’tu dipapakkanni iamo tu mentama naraka kamatean saelako-lakona.  Mitandairaka tu masalana?  Ia tu Puang Matua maruru’ napapakkanni tu dosa.  Apa ia duka tu Puang Matua mamase’ nanoka umpapakkanni tu dosa.  Iate kara-kara ia te lendu’ masussanna.
Umba susi nakamamasean nakamarurusan si tammu?  Iate kara-kara ia te masussana apa ia ke Puang Matua tae’ na masussa.  Den misa’ tau di sanga Samila dio tondok Rusia morai la umpemeloi tondokna belanna ia tu datunna umpoparina misabangkalena.  Iate Samila narampun tu tau sola keluargana namale tama pangala’ morai la untobanganni tu datunna apa den tu masala’ dadi belanna ia tu kandena sidi’ri sia den bang tu tau lo umbokoi.  Iate to mangkampa kande tae’ natandai inda tu umbokoi apa nakua lako Samila, den bang tu tau umbokoi tu kande.  Na kuami Samila minda-minda tu diamparan umboko kande ladibamba kayu pellimangpulo di olona tau buda.  Attu ia to tae’ to book.  Apa tae’ namasai diamparan tu toboko iato.  Na iatu tau iato indo’na bangsia Samila.  Lendu’ masussana nasangding Samila.  Ia annala umbambai tu indo’na pellimang pulo nanglamate saba’matuamo natae’ duka nakamasei tu indo’na tu mangka umpekapuai.  Apa ia ke tae’ nabambai tae’ duka namaruru’ lako tau buda saba’ ianna tau nabamba tapi ia ke indo’na narampanan.  Ia to bongi ia to ia tu Samila tangmamma’ untangngaranni tu indo’na.  Ia duka tu tau buda ma’kada nakua ia ke nabambai tu indo’na ba’tuananna pia tang mamase lako indo’na.  Apa den duka tu ma’kada nakua iake tae’ nabambai tu indo’na tau ia to tangmaruru’.  Ia tonna masingmo diomai ia tu tau si rampun dio tana lapang laumpengkitai tu indo’na Samila la dihukum.  Ia tonna lambi’mi attu la dihukum tu indo’na samila mentamami tana lapang tu pa’baraninna Samila.  Ia tu indo’na Samila disambeko na dipumpung dio to’ kayu.  Ia tonna diko mando te pa’barani la ma’bamba satu…..,  dua……, ta’pa den gamara metamba da’ patarrui.  Ia tu tau pada mangnga ma’apai natae’nadipatarru’.  Ia tu Samila mello domai to’kaderana ma’dondo tama lapangan naraka’I tu indo’na naudungngi narampananni tu peporinna nabai lako to’biring lapangan namangka to ia tu Samila mentama lapangan naalai tu bayu kadatuanna nama’kale-kale di bammba ussonda indo’na.  Dio to biring lapangan indo’na Samila tumangi belanna kasalanna anna ia to anakna dibamba.  Inde te dini untiroi kamamasean anna kamarurusan sitammu ullendui passorongan kalena. Ten dukamoto tu Puang te’ napesakkaranni to kamaseanna lako kita sia tae’ duka napa’dei tu kamarurusanna lako kita. 
Puang Matua umpopempayanni tu kamamaseanna sia kamarurusanna lako kita ullendui passoronganna lan Puang Yesu’.
Ia tu Puang Yesu’ iamo Puang Matua mendadi tolina.  Apara tu mangka napogaukan?  Melo ke kupatiroangkomi susite.  Ia kenna ia te lima kairingki dipa’pasusi to lino, na ia te lima kanangku dipa’pasusi Puang Matua, Ia tu Puang Matua la umbengki katuan saelakona susi misa’ pamengan tangdialli apa den tu ussakkalnganni na tae’ na bisa di ala belanna dosa.  Ia kennala dioki’ tu dosata lan misa’ sura’ tae’ nalaganna tu sura’ iate.  Ia tu kita tomadosaki’ apa Ia tu Puang Matua liu mamase tae’ nalaumpappakkanni tu dosata.  Apa ia duka tu Puang Matua maruru’ napapakkanni to dosata.  Umba nakua ia tu kamamasean sia kamarurusan sitammu?  Mikilalairaka tu ceritanna Samila nina’?  Mempayan kumua kamamasean sia kamarampasan sitammu ullendui passorongan.  Tenmoto tu Puang Matua umpasalama’ torro to lino ullendui karampoanna Puang Yesu’ tama lino mendadi to lino susi kita.  Ia tu to lino ponno dosa na ia tu Puang Yesu’ tae’ namadosa.  Belanna te’ Ia na madosa na bisa untangggung tu dosata.  Ia tu mintu’ dosata sia kakadakeanta natanggung Puang Yesu.  Tae’ Ia namadosa apa mangka diangga susi to madosa ussondaki kumua ia tu kita diangga’ to tongan dio pentirona Puang.  Do kayu pea’ta Puang Yesu’ umpassan dosata.  Ia tonna tae’pa namate ma’kadami kumua sundunmo.  Battuananna mintu’ tu kadila’bangkan dosa tempon dio mai, totemo na saelako-lakona dipagarrimo ullendui kamateanna Puang Yesu’ do kayu pea’ta.  Puang Yesu mate, dikaburu’, natuo sule anna kendek langan suruga, do mai suruga nani umpa’peambaranni tu katuan sae lakona susi misa pa’kamase tangdialli.  Iate katuan sae lakona ditarima sisola kapatongan.
Ia tu kapatonganan dipa’pasusi kunci umbungka suruga.  Den indete tu ba’tu pira-pira kunci tapi tae’ namintu kunci ia te, bisa nasang dipake umbungka’ misa’ ba’ba.  Ia tu kunci tongan laumbungka ba’ba suruga disangan kapatongana mepasalama’.  Na ia tu kunci senga’ tae’ nabisa dipa’bungkaran, dipa’pasusi kapatonganan tang mepasalama’.  Umbara susi tu disangan kapatonganan tang mepasalama’?  Ia tu kapatonganan tang mepasalama’ di pa’pasusi to mengkondong lan kamalillinan, tae’ natandai tu apa dio olona.  Ma’ patongan apa tae’ natandai minda tu napatongan.  Ia tu kapatonganan kasaranian menggaronto lan kamalimbangunanna Puang Yesu’ dio mai kamatean natiro la’bi lima ratu’ tau.
Ma’penduanna ia tu kapatonganan tang mepasalama’ iamotu menggaronto’bangri dio akkala’na.  Susinna kumua ia tu presiden Indonesia natandai tapi, anna den lo lako banuanna tae’ natarimaki’ belanna tae’ na den siba len sia sipa’kada len.  Susibangsia to buda tu tau untandai Puang Yesu’ mate do kayu pea’ta belanna dosana tolino.  Natandaiduka kumua Ia mo Puang apa tae’ napatongan-tonganni.  Ten dukamoto buda tu tau untanndai kumua Puang Yesu’ iamo jurusalama’ apa dio bangri pa’tangaranna.  Ia duka tu setang napatongan kumua ia tu Puang Yesu’ apa ma’parondo.  Mentamaraka tu setang tama lan suruga? Tantu tae’.  Ia tu kapatonganan mepasalama’ tae’ naditandaimanna minda tu Puang Yesu’ dikanassai ullendui pa’tanganrannta apa parallu disattuan sisola ponno pena susi misa’ juruselama’ launnampa’ katuan saelakona.
Den duka tu kapatongannan tang masaelako.  Ia mo tu ussattuan Puang Yesu’ secara batang kale.  Susi ke umparalluiki kamalapuran naden massambayang, umparalluiki doi’, si pa’tunduan ludiomai Puang Matua.  Apa launnapa’ katuan tontong saelakona usaatuanki penggauran melo sia kamenomban na senga’-senaga’na.  Mintu’na te melo apa lan manna ri lino.  Nakaeloi Puang Matua laumpatonganni lan kara-kara ia tea pa tae’ nalaumbaki lako katuan maselako.  Paralluki ussattuanni anta ampa katuan saelakona.
Ia to kapatonganan mepasalama’ iamotu umpahangngi sia ussattuan Puang Yesu’ susi misa’ Puang juru salama’ dini unnampa katuan sae lakona.
Den misa’ pa’pasisian susite, dio Amerika den tu tau disanga Pak Blondin.  Iate tau ia te bisa lumingka do misa tete kawa’.  Ia tonna pa’bunga’na tae’ apa nabaa.  Ia tonna ma’penduanna umba garoba’ naponnoi kassi.  Ia tonno rampo lian massala’pa nasang tu tau.  Mekutanami tu panggawana lako tau buda nakua mipatongan raka kumua ia tu pak Blondin bisa la umpalamban tau do te to’ garobak?  Nakumi tau mebali ia kipatongan. Nakuami tu panggawana mindarana morai ladipalangan te garoba nadipalamban?  Dikutanai misa’ pia muane nakua tae’pa kuma’rumah tangga,  dikutanai misa’ nenek, nakuami more-morebangmo doki tobangna rokko.  Dadi tae’ bang tau morai.  Attu ia to den mi misa’ pia muane kendek langan to garogak iato nasorongngi rampo lian sambalinan.  Ia tu tau massala’pa-la’pa.  namekutana mindara anak tu pia ia to?  Ma’ apai na barani kendek langan?  Taerakaiok mumataku’ nakuami tae’ku mataku saba’ iatu pak Blondin ambe’ku.  Inde te tani untiroi da’ dua kapatonganan.  Ia tu to buda ma’patongan ullendui tanga’na sia nakanassai duka apa tae’ nasa’tuanni tu pak Blondin.  Ten dukamoto tu kapatonganan tang mepasalama’ lan bangri tangnga’na sia dikanassai duka apa tae’ nasattuanni tu Puang Matua.  Iate pia  natandai, sia natonganni anna sattuan duka tu ambe’na, ten dukamoto tu kapatonganan tongan ditandai tu Puang matua anna dikanassai sia disattuan la unnampa katuan tontong saelakona.
Mi pahang nasangmoraka tu iate?
Morairokomika la untarimai tu katuan saelakona?  Ammi morai launtarimai tu katuan  saelakona tarimai tu to umpa’ben katuan saelakona iamo tu Puang Yesu’.  Lamisattuan tu Puang Yesu’ susimisa’ Juru salama’ sia lami akui tu Puang Yesu’ lan penammi ammi mengkatoba’komi mituru’ Puang Yesu’.  Ia moraka te tu mikamali’na?  Lamiparampo tu tanan penannmi lako Puang Yesu ullendui kapasambanyangan.
Ta massambayang (Berdoa)
Ma’ kurre sumanga’ kan sisola……
Belanna napahangmo sia moraimo launtarimamo katuan saelakona.
Totemo lanapokada to apa mendadi kamamaliran penanna matik oloMi…….
Puang Yesu,  aku te tomadosana’ tang sipatuna’ untarima katuan saelakona, apa kupatongan kumua mangkakomi mate sia tuo dio mai to’ kaburu’ ammi pasadianna inan do suruga.  Puang Yesus’ mentamamokomi penangku mendadi Puangku sia pelakbakku to temo nasaelakona.  Pagarrimi tu dosaku anna Puang Yesu’ ku sattuan umpasalama’nai.  To temo kutarimamo tu katuan saelakona.  Kurre sumanga’ Puang Yesu.
Situru’ pa’dandimmi Puang kumua minda-minda tu ma’patongan unammpa katuan masae lako anna mendadi anak Puang sia mipagarri tu mintu dosana,  to temo kupatongan kumua unnampuina’ katuan tontong saelakona sia latamana’ suruga.  Amin.

Totemo lakubasangkomi apa tu napokada Puang Yesu tu diona apa mangkamo mi ra’ta’.  Lammai Yohanes 6:47.  Puang Yesu’ ma’kada, “Ma’kadana lako kalemi kumua minda tu ma’patongan unnampui katuan saelakona.  Puang Yesu’ kalena ma’dandi umpa’ben katuan saelakona watttunna simisa’misa’ tau umpalakui.
Mulai totemo situru’ dandinna miampa’mo tu katuan saelakona battuananna piran-piranbangmo natambaikomi Puang inang la tamakomi suruga.  Dadi katuan tontong saelakona ditarima ulenndui’ kapatonganan. 
Pembudaki ma’tanga’ kumua ia tu unnampak katuan tontong saelakona la mentoe mandaki lako limanna Puang.  Apa tang matoto’ki’ sia malammaki’ sia dirampanan tu limanta.  Apa wattunta ma’patongan lako Puang Yesu’ Puang Yesu’ tu launtoe tu limanta.  Tae’ narampanan lenni tu limanta.  Tabasai lanmai sura’ Yohanes 10:28, Puang Yesu’ ma’kada, “Aku laumbenni katuan tontong saelakona, tae’nala sanggang saelakona sia moi misa’ tau tae’ belai urrampai diomai kaleku.”  Dadi iatu kasalamaran napa’ben Puang Yesu’, iamo kasalamaran manassa tongan tangngia apa balle.  Dadi ia ke matekomi allo iate mikanassai siamoraka kumua lamentamakomi suruga?  Naumbasusi tu penggauran melota?  Penggauran melo dipogau’ tanda bua-bua kasalamaranta (Ef. 2:10).

Salama’ mentama keluargana Puang Matua.

@FrerianusErwin
#FrerianusErwin





Sejarah Gereja Mula-Mula


Selamat membaca.
Tuhan Memberkati 

Hasil gambar untuk gambar gereja mula-mula


BAB I
PENDAHULUAN
Latar Belakang
Periode pertama dalam sejarah gereja mula-mula dapat disebut sebagai periode pendirian. Pada awalnya tidak ada bukti bahwa orang-orang yang percaya memisahkan diri dengan tegas dari Yudaisme. Sebelum menjadi hari lahir agama Kristen, Pentakosta adalah hari raya orang Yahudi. Khotbah para rasul menafsirkan Kitab Suci Perjanjian Lama dan menekankan kemesiasan Yesus, bahkan menyatakan dengan terus terang bila bangsa bertobat, Yesus, Sang Mesias akan kembali (Kis 3:19-20).
Hari lahir gereja adalah Pentakosta. Kesebelas rasul, maria ibu Yesus, saudara-saudaranya, dan beberapa orang wanita yang selalu mengikuti Dia, serta orang banyak lainnya, yang semuanya berjumlah 120 orang, berkumpul bersama untuk berdoa sesuai dengan perintah Kristus. Kedatangan Roh Kudus merupakan bukti awal terbentuknya gereja mula-mula. Merril C. Tenney mengatakan,  “Roh Kudus mempersatukan orang-orang yang percaya menjadi satu kelompok, memberinya suatu pemersatu yang sebelumnya tidak mereka miliki, dan member mereka keberanian untuk menghadapi ancaman siksaan (Kis 2:4; 4:8; 31; 6:8-15)”.[1]
Gereja adalah persekutuan orang-orang yang dipanggil dari kegelapan masuk kedalam terang yang ajaib. Ensiklopedia Alkitab masa Kini mengatakan, “Istilah gereja dalam bahasa yunani “eklesia” (eklesia) berarti pertemuan atau sidang jemaat.”[2] Jadi gereja adalah persekutuan orang percaya kepada Yesus Kristus.
            Van den End mengatakan, “Sejarah gereja adalah kisah tentang perkembangan-perkembangan dan perubahan-perubahan yang dialami gereja selama di dunia ini.”[3] Jadi kalau berbicara mengenai pertumbuhan gereja adalah kenaikan yang seimbang dalam kuantitas, kualitas dan kompleksitas organisasi sebuah gereja.[4] Mengetahui sejarah gereja berarti kita akan mengetahui dan mengerti tentang keadaan persekutuan masa yang lampau untuk zaman sekarang, guna dijadikan pedoman untuk zaman ini.
Jadi, pentingnya memahami sejarah pertumbuhan gereja mula-mula karena dapat dijadikan pedoman dalam membangun dan mengembangkan gereja untuk mempersiapkan setiap orang dalam menyambut kedatangan Kristus Yesus untuk kedua kalinya.


BAB II
KAJIAN PUSTAKA
Pengertian, Prinsip-prinsip dan Bentuk-bentuk Pertumbuhan Gereja Mula-mula
Pengertian Pertumbuhan Gereja
Dalam Kisah Para Rasul  jemaat mula-mula mengalami progres pertumbuhan yang sangat pesat, baik secara kuantitas maupun secara kualitas. Pertumbuhan yang terjadi pada zaman itu tidak lepas daripada Peranan Roh Kudus dan tentu saja merupakan inisiatif Allah dalam rencan-Nya. Olehnya itu, anggota jemaat paham prinsip-prinsip pertumbuhan gereja berdasarkan Firman Allah. Kisah Para Rasul menceritakan tentang sejarah pertumbuhan gereja mula-mula, dan tentunya juga menjelaskan prinsip-prinsip pertumbuhan gereja yang dapat diterapkan di masa sekarang ini.
Secara teologis, pertumbuhan gereja mencakup semua komponen dari sebuah gereja yang bertumbuh sebagaimana nampak dalam definisi yang diberikan oleh para ahli pertumbuhan gereja di bawah ini:
Menurut Peter Wagner,”Pertumbuhan gereja adalah segala sesuatu yang mencakup soal membawa orang yang tidak  mempunyai hubungan pribadi dengan Yesus Kristus ke dalam persekutuan dengan Dia dan membawa mereka menjadi anggota gereja yang bertanggung jawab.[5] Definisi ini menekankan keseimbangan pertumbuhan  secara kuantitas dan kualitas. Menurut Ron Jenson dan Steven,”Pertumbuhan gereja adalah kenaikan  yang seimbang dalam kualitas (mutu), kuantitas (jumlah), dan kompleksitas (kerumitan) organisasi sebuah gereja lokal.[6]
Jadi,  dari definisi ini merupakan kunci untuk memahami proses yang menyebabkan gereja bertumbuh. Jika pertumbuhan secara kuntitas, kualitas, dan struktur  organisasi  tidak terjadi secara seimbang, maka sebuah gereja tidak dapat mempertahankan kesehatannya secara baik. Gereja diibaratkan memiliki hidup dan mempunyai kemampuan untuk pertumbuhan secara alamiah. Rick Warren mengatakan, “Gereja adalah organisme yang hidup sudah sewajarnya gereja akan bertumbuh jika gereja itu sehat. Gereja itu suatu tubuh bukan perusahaan. Gereja adalah organisme bukan organisasi. Apabila gereja itu tidak bertumbuh, berarti gereja itu sekarat”.[7]
Prinsip-prinsip Pertumbuhan Gereja Mula-mula
         Prinsip yang sangat mendasar dalam segenap kehidupan ialah adanya pertumbuhan. Gereja adalah organisme. Di dalam gereja ada suatu dinamika/sesuatu yang hidup. Allah menginginkan gereja-Nya bertumbuh oleh karena prinsip-prinsip sebagai berikut:
Pertumbuhan Gereja adalah Kehendak Allah yang Kekal
Kej. 1:27-28 menyatakan perjanjian antara Allah dan manusia, yaitu menghendaki manusia untuk mengatur dunia ini (mandat Ilahi Budaya/ Pembangunan). Secara teologis, pertumbuhan gereja adalah melaksanakan kehendak Allah. Pertumbuhan gereja sudah ada dalam hati Allah sejak  kekal. David G. B rougham mengatakan, “Kebenaran pokok ini dapat dilihat tatkala kita menelusuri sejarah Tuhan dengan manusia mulai dari kitab Kejadian sampai kepada panggilan Abraham bagaimana Tuhan menghadapi Israel dan menubuatkan kedatangan Juruselamat.”
Pertumbuhan Gereja adalah Sifat Hakiki Misi Yesus Kristus
PB mengajar bahwa Yesus Kristus diutus dari Allah (Yoh. 4:9). Yesus Kristus sendiri menyadari sepenuhnya bahwa Dia adalah seorang yang diutus, seorang misionaris. Para malaekat memberitakan bahwa kelahiran Yesus Kristus sebagai berita kesukaan kepada seluruh bangsa (Luk. 2:10-11). Yesus Kristus sendiri sering menegaskan bahwa kedatangan-Nya adalah mencari dan menyelamatkan yang terhilang (Luk. 9:10). Kehidupan, kematian, dan kebangkitan Yesus Kristus dan yang sekarang hidup dengan Bapa adalah misi yang bertujuan pertumbuhan gereja.
Pertumbuhan Gereja adalah Tanggung Jawab Anggota Jemaat
Prinsip pertumbuhan gereja dalam Perjanjian Baru, bukan hanya terletak pada hamba Tuhan tetapi pada seluruh anggota jemaat. Perjanjian Baru mengharuskan adanya andil atau bagian kaum awam dalam penginjilan.  Widi Artanto mengatakan bahwa dalam Kis. 1:8, dikatakan, “Mereka semua ... kecuali rasul- rasul tersebar  dan mereka yang tersebar itu menjelajah seluruh negeri dan memberitakan Injil. Kata yang diterjemahkan memberitakan Injil ialah evangelizo  dalam bahasa Yunani yang artinya menginjil. Artinya setiap orang kecuali para rasul pergi ke mana-mana memberitakan Injil. Tetapi yang menjadi penekanan adalah yang diilhami ini adalah bahwa setiap orang, selain para rasul juga pergi dan menginjil.”[8]

Bentuk-bentuk Pertumbuhan Gereja Mula-mula
Pertumbuhan Kualitas
Pertumbuhan secara kualitas adalah pertumbuhan yang nampak dalam buah-buah kehidupan anggota gereja sebagai akibat meningkatnya hubungan dengan Tuhan dan rasa tanggung jawabnya dalam pelayanan. Hal ini menyangkut pendewasaan orang Kristen, baik secara individu maupun secara kolektif, di mana mereka bertumbuh menuju kesempurnaan dalam Kristus. Anggota jemaat bersekutu satu dengan yang lain, berbakti bersama, menelaah Alkitab bersama, menguatkan satu dengan yang lain. Sebelum kenaikan-Nya ke sorga, Ia mengamanatkan suatu tugas kepada murid-muridnya yang dikenal sebagai Amanat Agung (Mat. 28:19-20).     
Mutu atau kualitas ini di tekankan pula dalam Kis. 2:41-47. Ketika Lukas memberikan deskripsi mengenai jemaat di Yerusalem, kita dapat mengidentifikasi ciri-ciri kualitatif sebagai berikut:
Pertama, Anggota Jemaat bertekun dalam pengajaran rasul-rasul (Kis 2:42). Aspek doktrinal (pengajaran yang benar) sangat esensial dalam gereja yang bertumbuh.
Kedua, Ada proses sosio-ekonomis di antara anggota jemaat yakni mereka bersatu dan saling melayani (Kis. 2:44). Inilah aspek diakonia jemaat (Kis. 2:45-46) yang merupakan pelayanan ke dalam tubuh jemaat.
Ketiga, Terjadi identifikasi sosio-kultural. “Mereka disukai semua orang” (Kis. 2:47). Identifikasi sosio-kultural inilah yang menunjang aspek marturia (kesaksian) ke luar jemaat. “...tiap-tiap hari Tuhan menambah jumlah mereka dengan orang yang diselamatkan” (Kis. 2:47b).
Pertumbuhan kualitas (rohani) anggota jemaat ini sulit diukur, namun dapat diamati dan dinilai melalui frekuensi ibadah, pemberian, partisipasi, ketekunan, dsb. Melihat apa yang telah disebut di atas, maka dapatlah dikatakan bahwa perintah di dalam Amanat Agung adalah “memuridkan” (menjadikan murid). Itu sebabnya para murid dalam jemaat mula-mula mewujudkan pelaksanaan Amanat Agung dalam bentuk penanaman jemaat di seluruh tempat yang mereka layani. Upaya  pemberitaan Injil selalu diikuti dengan pembentukan jemaat lokal sehingga terjadi pertumbuhan gereja baik secara kuantitatif maupun secara kualitatif. Itulah pola dan strategi pelaksanaan misi dalam jemaat mula-mula yang patut diteladani.         
Kuantitas
Pertumbuhan gereja secara kuantitas adalah pertumbuhan yang dapat diamati dan diukur dalam bentuk pertumbuhan jumlah, yaitu meningkatnya jumlah anggota dalam kurun waktu tertentu. Pertumbuhan secara kualitatif sangat penting, tetapi dalam Alkitab pertumbuhan kuantitatif juga ditekankan. Bagian terakhir dari deskripsi Lukas tentang jemaat pertama di Yerusalem menunujkkan bahwa kuantitas jemaat itu mempunyai pengaruh yang positif terhadap marturia/kesaksian mereka. Selain pertumbuhan kuantitatif sebagaimana digambarkan dalam Kisah Para Rasul, ayat-ayat berikut juga menunjukkan tekanan pada pertumbuhan secara kuantitas: Yoh. 4:31-38; Mat. 9:37-38; Luk. 5:1-11; 19:10.
Struktur Organisasi
Pertumbuhan gereja secara organik dicerminkan dalam perkembangan struktur organisasi dan kepemimpinan. Pertumbuhan secara kuantitas dalam gereja mula-mula membawa konsekuensi-konsekuensi. Jumlah anggota yang bertambah dan padatnya pelayanan, mulai timbul kesadaran kelompok, menimbulkan  masalah baru seperti yang dilukiskan oleh Lukas dalam Kisah Rasul pasal 6. Jumlah anggota jemaat bertambah, kebutuhan pelayanan  bertambah pula, sehingga timbul masalah: rasa kurang puas (Kis. 6:1). Hal itu membutuhkan struktur organisasi/kepemimpinan untuk menyelenggarakan kegiatan jemaat secara kualitatif dan kuantitatif. Pertumbuhan secara organik dapat dilihat dalam hal: (a) Kis. 6:2-4: ...kami mengangkat mereka untuk tugas itu....; (b) Kis. 14:23:...dapat memusatkan perhatian....; (c) Kis. 15:1-35 : ...penatua, penilik, menggembalakan. 
Dari kenyataan tersebut di atas, terlihat bahwa hakikat pertumbuhan gereja secara kualitatif, kuantitatif, dan organik itu harus berlangsung secara seimbang.
Christian A. Schwarz  mengemukakan delapan karakteristik dari gereja yang bertumbuh, yaitu (1) kepemimpinan yang memberlakukan pemberdayaan, (2) pelayanan yang berorientasi pada karunia, (3) kerohanian yang haus dan penuh antusiasme, (4) struktur pelayanan yang tepat guna, (5) ibadah yang membangkitkan inspirasi, (6) kelompok kecil yang menjawab kebutuhan secara menyeluruh, (7) penginjilan yang berorientasi pada kebutuhan, dan (8) hubungan yang penuh kasih.[9]
Metode-metode Pertumbuhan Gereja Mula-mula
            Dalam jemaat mula-mula ada beberapa metode yang digunakan dalam pertumbuhan gereja. Metode tersebut sangat efektif dan memberikan dampak perluasan kerajaan Allah sampai pada saat ini.
Bertekun dalam Doa (Kis. 1:12-26)[10]
Para murid bertindak dalam ketaatan kepada Allah dengan langsung pergi ke Yerusalem setelah malaikat berkata kepada mereka, “mengapakah kamu berdiri melihat ke langit?” Penantian akan kedatangan Yesus berganti menjadi penantian akan kedatangan Roh Kudus yang telah dijanjikan.  Para murid “bertekun dengan sehati dalam doa bersama-sama”. Dari situ orang percaya dapat belajar tentang apa yang ditetapkan Allah bagi gereja yang sudah dipanggilnya. Bertekun dalam Doa merupakan hal penting dalam meminta Kuasa Roh Kudus membantu dan menolong gereja dalam menyebarluaskan kerajaan Allah.
Penginjilan
Jemaat mula-mula walaupun kemudian mengalami penganiayaan yang luar biasa, mereka tetap berani memberitakan Injil, baik kepada orang Yahudi maupun non-Yahudi. Isi pemberitaan mereka ialah Kristus adalah Tuhan.  Orang-orang percaya dalam kitab Kisah Para Rasul berani memberitakan Injil dengan menembus berbagai tantangan baik budaya, suku, geografis maupun agama. Keberanian mereka memberitakan Injil adalah karena didorong oleh kasih Kristus yang menjiwai mereka. Venena mengatakan, “Dalam kitab Kisah Para Rasul penginjilan sangat menonjol. Hal ini disebabkan karena Kristus sendiri yang aktif melalui Roh-Nya mengontrol dan memimpin kegiatan penginjilan. Dalam hal ini orang-orang percaya juga sadar akan panggilan mereka.”[11]
Keberanian orang-orang percaya dalam kitab Kisah Para Rasul ditandai dengan menjangkau bukan hanya orang-orang di lingkungan mereka sendiri (orang-orang Yahudi) tetapi juga orang Yunani. Peter Wagner mengatakan bahwa, pahlawan rohani yang sesungguhnya adalah mereka yang memenangkan jiwa/penjala orang. Roh Kudus memberi kuasa untuk meyakinkan manusia agar mengikut Kristus melalui pertobatan, iman, dan baptisan, dan semua orang Kristen diharapkan untuk memakai kuasa itu dalam pemberitaan Injil.[12]
  

BAB IV
PENUTUP
Kesimpulan dan Saran
Pada bagian ini, kelompok menyimpulkan bahwa dasarnya gereja yang bertumbuh adalah gereja yang memiliki mutu, jumlah, dan organisasi yang dipimpin dengan baik. Prinsip dasar dari pertumbuhan gereja mula-mula adalah Kehendak Tuhan dan tidak terlepas dari pada peran Roh Kudus. Kemudian kelompok juga memberikan model-model yang digunakan gereja mula-mula dalam pertumbuhan gereja yakni, bertekun dalam doa dan penginjilan. Oleh karena itu, sangat penting bagi gereja masa kini untuk dapat mengerti dan menerapkan pola-pola tersebut sehingga menjadi pedoman untuk gereja bertumbuh di masa sekarang ini menjelang kedatangna Yesus yang kedua kalinya.

@FrerianusErwin
#FrerianusErwin







[1]Merril C. Tenney., Survei Perjanjian Baru, (Malang: Gandum Mas, 2017), 294.
[2]                , Ensiklopedia Alkitab Masa Kini, Jilid 1  (Jakarta: YKBK, 1992), s.v. “gereja.”
[3]Van den End, Harta dalam Bejana (Jakarta: BPK. Gunung Mulia, 2010), 1.
[4]Ron Jenson & Jim Stevens, Dinamika Pertumbuhan Gereja ( Malang: Gandum Mas, 2000), 8.
[5]Peter Wagner, Gereja Saudara dapat Bertumbuh (Malang: Gandum Mas, 1990), 11.
[6]Ron Jenson dan Stevens, Dinamika Pertumbuhan Gereja (Malang: Gandum Mas, 1996), 8. 
[7]Rick Warren, Pertumbuhan Gereja Masa Kini: Gereja yang Menpunyai Visi-Misi, (Malang: Gandum Mas, 1999), 20.
[8] Widi Arianto, Menjadi Gereja yang Misioner dalam Konteks  Indonesia (Jakarta: BPK Gunung Mulia, 1997), 28.     
 [9]Christian A. Schwarz, Pertumbuhan Gereja yang Alamiah, (Jakarta:Yayasan Media Buana Indonesia, 1999), 36.

[10]Andrew Brake, Menjalankan Misi Bersama Yesus: Pesan-pesan bagi Gereja dari Kisah Para Rasul, (Bandung: Kalam Hidup, 2016),  15.
[11]H.Venena, Injil untuk Semua Orang (Jakarta: Yayasan Komunikasi Bina Kasih, 1997),156.
[12]Peter Wagner, Pertumbuhan Gereja dan Peranan Roh Kudus (Malang: Gandum Mas, 1989),